Radius: Off
Radius:
km Set radius for geolocation
Search

Kepincut Batik, Penulis dan Kolektor Asing Ini Buka Galeri di Jerman

Kepincut Batik, Penulis dan Kolektor Asing Ini Buka Galeri di Jerman

Batik Indonesia terbukti berhasil memikat pecintanya hingga Eropa. Kolektor, peneliti sekaligus penulis buku tentang batik Indonesia asal Jerman, Rudolf Smend mengaku telah mengoleksi 23 batik dari Indonesia. Kolektor berusia 74 tahun ini tidak sembarangan dan sangat selektif mengoleksi batik.

“Hanya batik best of the best dari Indonesia yang saya koleksi, makanya jumlahnya hanya 23. Saya cari batik tulis yang tua, unik, warnanya bagus, dan coraknya bagus. Paling penting ada tanda tangan nama pembatik, tahun pembuatan, dan lokasinya, karena itu bagian dari sejarah,” paparnya kepada detikFinance di sela-sela Gelar Batik Nusantara (GBN) 2015, di Jakarta Convention Center, Minggu (28/6/2015).

Di negara asalnya, Rudolf membuka sebuah gallery pribadi dan hanya menjual koleksinya ke sesama kolektor. Rudolf mengaku paling menyukai batik tulis Lasem.

“Sulit diungkapkan dengan kata-kata, saya suka warna alaminya, coraknya dan Lasem itu punya sejarah sendiri soal batik,” tuturnya.

Kolektor batik Indonesia asal Jerman lainnya, Brigitte Willach, mengaku telah mengoleksi 140 lembar kain batik.

“Saya sudah koleksi 140 kain batik khususnya dari Bantul, Yogyakarta. Ada sebuah koperasi pembatik bernama Bimasakti yang selalu saya beli karyanya untuk dikoleksi di galeri saya di Jerman,” ungkapnya kepada detikFinance.

Brigitte mengaku koleksinya tidak untuk dijual kembali termasuk ke sesama kolektor. Ia hanya kumpulkan untuk galerinya di Museum Tekstil dan di Jerman. Pelukis asal Jerman ini kepincut dengan batik motif Semen Ageng khas Yogyakarta.

“Batik Yogyakarta itu simbolik dan penuh makna. Contohnya motif Semen Ageng, itu melambangkan titik awal mula kehidupan dimulai. Saya sudah bukukan juga koleksi batik saya,” ujarnya.

Brigitte mengaku telah 20 tahun mengoleksi batik tulis khas Yogyakarta. Ia pun menyayangkan para pembatik saat ini makin sedikit dan berusia lanjut.

“Pembatik seperti di Bimasakti itu berusia 60-70 tahun. Saya ingin anak muda juga membatik supaya batik tidak punah dan bisa mengenali jati dirinya sebagai orang Indonesia,” terangnya.

Sumber: Detik.com